Sabtu, 29 Agustus 2009

KARYA BANGSA

Oleh Jajang Suryana

Membaca sejumlah buku tentang Bali, kita akan terhenyak, ternyata penulisnya adalah para Bule. Anda bangga karena masalah Bali ditangani orang lain? Atau, Anda langsung sesumbar, “Hebat, Bali dikenal dan diperhatikan oleh orang-orang mancanegara!”. Nanti dulu. Mari berpikir rasional.

Dalam setiap kali memberi kuliah tentang kesenian, khususnya seni rupa, saya selalu menemukan nama penulis buku tentang Bali yang menjadi acuan bagi mahasiswa, seperti Covarrubias, Urs Ramseyer, A.J. Bernet Kempers, dan R. Goris. Penulis-penulis tersebut adalah penulis asing yang tertarik untuk mendokumentasikan hal ihwal permasalahan Bali. Tulisannya, kemudian, secara terus-menerus dijadikan sumber acuan.

Adakalanya seorang pelancong Barat yang suka menulis, kemudian mengumpulkan data yang ditemukannya dari hasil berdialog dengan masyarakat, jadilah sebuah buku catatan perjalanan. Tetapi karena ditulis oleh orang Barat, berbahasa asing, diterbitkan di belahan dunia Barat, buku tersebut kemudian bisa dianggap sebagai buku acuan ilmiah. Anehnya, ketika mahasiswa asal Bali, mau menulis tentang Bali miliknya, buku-buku seperti tersebutlah yang kemudian diacu.

Betapa sangat bangga jika kita mendengar di Amerika ada perkumpulan gamelan, di Inggris ada dalang wayang, atau di Jerman ada perkumpulan para pesilat. Hasil budaya tradisi bangsa Indonesia dipelajari di mana-mana. Kemudian, para seniman Barat yang telah mempelajari seni tradisi Indonesia, “berani” tampil di depan halayak masyarakat pemilik kesenian tersebut. Begitu pun, bahasa Indonesia, kini telah banyak dipelajari di Australia, Jepang, dan Belgia, misalnya. Para mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di perguruan-perguruan tinggi negara tersebut, berani “berbicara” menggunakan bahasa Indonesia di negara asal bahasa tersebut.

Seseorang yang akan melanjutkan kuliah pada tingkat pascasarjana bidang sejarah harus menguasai bahasa Belanda. Penguasaan bahasa ini menjadi mutlak, karena aneka pustaka acuan wajib bidang sejarah Indonesia, ternyata, rata-rata berbahasa Belanda. Begitu pun mahasiswa pascasarjana bidang bahasa daerah, seperti yang mengambil bidang Bahasa Sunda, Jawa, dan Bali, misalnya, buku-buku acuannya juga berbahasa Belanda. Hal ini membuktikan, betapa sumber keilmuan tentang negara kita banyak yang disimpan di negeri orang. Tersimpannya dokumen tersebut di negeri orang, tentu saja, kerena semuanya ditulis, didokumentasikan oleh orang lain: bukan oleh bangsa Indonesia sendiri!

Budaya sadar-tulis bangsa kita memang masih sangat muda usianya. Pembinaan kesadaran baca-tulis pada bangsa kita, kita akui, sangat kurang. Mata ajar mengarang di sekolah-sekolah kurang diberi perhatian. Masih banyak guru dan orang tua yang lebih bangga kalau anaknya pandai matematika dibanding pandai mengarang.  

Kekayaan hasil budaya kita, kenyataannya, masih begitu banyak yang dibiarkan tak terdokumentasi. Kalau pun ada usaha pendokumentasian, hal itu masih belum sebanding dengan keanekaragaman jenis kekayaan hasil budaya kita. Menurut berita, ada seorang warga Australia yang memiliki cukup modal dan perhatian terhadap hasil kebudayaan masyarakat Bali. Dia mulai merintis pendokumentasian benda-benda tradisi milik masyarakat Bali. Menurut sumber berita tersebut, lewat kerja sama dengan beberapa orang warga Ubud, warga Australia itu berencana membangun museum alat-alat tradisional Bali. Nah!

Hal-hal menarik yang bisa kita perhatikan pada benda tradisi milik masyarakat kita adalah berkaitan dengan munculnya istilah-istilah masa kini. Produsen shampoo, sebagai contoh, punya istilah two in one, three in one, dan sejenisnya. Kemudian para produsen benda tertentu pun ikut-ikutan menghidupkan istilah tadi. Ada satu kompor yang memiliki tiga fungsi; ada thermos pemanas air; ada jar penghangat nasi, dan banyak lagi.

Masyarakat tradisi juga telah memiliki hal yang sama, hanya saja bentuknya, sejalan dengan pola perkembangan desain, masih sederhana. Ada paon (kompor kayu bakar) yang memiliki dua atau tiga lubang api. Ada “selimut” teko air yang bisa menahan panas air, yang biasa ditemukan di daerah-daerah berudara dingin. Dan, ada juga teknik memelihara hangatnya nasi dengan cara menempatkan nasi pada sejenis sokasi yang di dalamnya dilapisi daun pisang, setelah nasi diolah sedemikian rupa supaya tetap pepal.

Budaya plastik yang merebak hampir di seluruh kawasan dunia adalah salah satu jenis teknologi modern yang bisa mendesak teknologi tradisi. Ketika alat-alat rumah tangga dari bahan plastik dianggap lebih praktis, murah, dan gampang “diurus”, masyarakat cenderung meninggalkan peralatan rumah tangga tradisi yang telah ada. Ujung-ujungnya, benda-benda yang awalnya menjadi kebanggaan masyarakat, sekaligus juga sebagai  kebanggaan pembuatnya, kini, telah diganti dengan aneka benda yang memiliki desain yang lebih kompak, praktis, dan higienis (karena mudah dibersihkan).

Jika semua benda peralatan rumah tangga tradisi telah tersisih, sementara catatan tentangnya tidak pernah ada, cerita apa yang bisa diturunkan kepada generasi penerus? Apakah anak-cucu kita akan kita biarkan memiliki kebanggaan terhadap benda-benda gubahan masyarakat lain? Bali, seperti kawasan Indonesia lainnya, menyimpan begitu banyak kekayaan hasil olah pikir dan rasa masyarakat kita. Pelestarian benda-benda hasil gubahan tersebut, tidak berarti harus tetap mempertahankan keberadaannya sebagai benda pakai sehari-hari. Ketika benda-benda tadi dianggap tidak cocok lagi dengan kepentingan percepatan kerja, misalnya, paling tidak catatan khusus tentangnya tetap ada. Jika anak-anak kita masih membutuhkan dongengan sebelum tidur, ayah atau ibu akan bisa bercerita dengan mengacu kepada buku catatan tadi. “Dulu kakek moyangmu adalah seorang yang amat mahir dalam membuat ……”  

Selasa, 28 Juli 2009

OLEH-OLEH BUNAKEN

Allah Mahabesar!

Kawasan laut Bunaken, Manado, sekitar Gunung Manado Tua, ditakdirkan Allah menjadi daerah bawah laut sangat indah. Bahkan sebagai salah satu taman laut terindah di dunia!

Aneka jenis ikan hias mengisi 'aquarium raksasa' laut Bunaken. Habitat karang laut yang aneka warna dan terjaga (mudah-mudahan seterusnya) menjadi tempat yang sangat serasi dengan keindahan ikan-ikan. Lukisan rahman Allah tak akan bisa tertandingi. Tetapi manusia kerap mengganggu, bahkan merusaknya.

Bunaken National Park, 7 mil laut dari Pelabuhan motor boat Manado, sekitar 35 menit perjalanan motor boat, memang tempat yang mengundang banyak pendatang. Pulau Bunaken, awalnya sebagai pulau karang, atol, yang luasnya 887,5 Ha mulai dipagari bangunan-bangunan hotel, villa, perumahan penduduk, puskesmas, dan tempat-tempat belanja ol
eh-oleh. Manusia akan terus merambah kawasan-kawasan yang diperkirakan bisa mendatangkan kesenangan (sementara). Terutama yang bisa mendatangkan kesenangan ekonomis.

Pada bagian sisi Pulau Bunaken yang telah digarap sebagai tempat berjualan cinderamata,
telah dibangun dermaga sandar motor boat. Sejumlah kios dibangun pada
bentangan pantai yang landai. Di bagian belakang jejeran kios (kios makanan dan cinderamata) telah dibangun pula sumber informasi bagi pengunjung, berupa museum, yang dilengkapi
dengan bangunan informan penjaganya.

Sayang, keinginan mendapatkan oleh-oleh khas Bunaken tidak akan bisa kesampaian. Di sini, di tempat penjualan oleh-oleh, hanya ada T-shirt bergambar lingkungan Bunaken. Itupun, sebagian label dagangnya bertuliskan made in Malaysia. Sejumlah hasil seni kriya, berupa kalung, gelang (paling banyak jenisnya), ikat rambut, dan hiasan rumah lampu gantung, tampaknya juga didatangkan dari luar Bunaken. Tak berbeda dengan oleh-oleh yang dijual di lingkungan wisata Bali. Kain Kerawang yang menjadi kebanggaan warga Manado, juga, konon dibuat di Gorontalo. Mudah-mudahan, warga Manado sigap menanggapi kondisi tersebut. Siapapun yang datang ke objek wisata tertentu, sangat ingin membawa oleh-oleh yang khas objek wisata tersebut!





WARUGA

Menyaksikan waruga sebagai catatan purba masyarakat Manado, menyiratkan bahwa jejak pola budaya mulasara jenazah sangat beragam. Jenazah masyarakat purba Manado ditempatkan dalam wadah batu, kubur batu, sejenis sacrophagus, dalam posisi duduk melipat lutut menempel pada bagian perut dan dada. Sebuah pola "kembali ke asal" yang menggambarkan pola keberadaan bayi di dalam kandungan seorang ibu.

Kubur batu waruga, kini, hanya tinggal sebagai wadah. Tak ada satupun yang berisi jejak terang tentang catatan masa lalu. Hanya ada satu scene relief kasar yang menggambarkan bagaimana kubur batu itu di'adakan'. Relief baru pada dinding sebelah kiri lorong masuk ke kompleks pemakaman purba ini, cukup informatif menggambarkan keberadaan kubur-kubur batu tersebut. Dulu, konon, isi kubur ini lengkap dengan segala hiasan milik si mati. Itulah, setelah waktu berjalan panjang, amat panjang, isi kubur di'kuras' oleh para pejarah.

Kompleks kubur batu ini, kini, bersatu dengan kuburan dengan penciri yang sangat berbeda. Kuburan-kuburan lainnya yang baru, pada posisi lebih ke depan, ke arah tempat parkir objek wisata budaya ini, adalah kuburan dengan ciri nasrani. Kuburan-kuburan baru yang diposisikan seperti 'melindungi' situs catatan berharga ini, kawasannya lebih luas. Tidak kurang duapertiga kompleks situs ini. Dua 'buku catatan' berbeda jejak usia didampingkan sebagai gambaran keterikatan masa lalu dengan masa setelahnya. Dan, kaitan dengan masa kini adalah dalam bentuk pemuliaan situs ini sebagai kawasan yang dilindungi secara ilmiah maupun secara ekonomi.

Situs waruga kurang menjanjikan hal yang menarik bagi masyarakat umum. Pengunjung dari golongan masyarakat umum dibiarkan 'liar' tanpa ikatan informasi yang jelas. Apalagi bagi pengunjung yang berbekal latar keilmuan, yang ingin tahu "habis-habisan" tentang situs ini, kondisi tadi sangat mengecewakan!

Rabu, 24 Oktober 2007

Selamat Datang

golekini bali-prasi

Penghargaan terhadap karya-karya seni rupa “tradisi” kerap timpang. Banyak teoretisi seni rupa yag merasa tidak memiliki hubungan langsung dengan akar tradisinya. Sikap penghargaan yang membarat telah menempatkan para pelaku seni tradisi sebagai kaum marjinal. Kriyawan golek (pembuat boneka golek) termasuk di dalam pemarjinalan itu. Padahal, begitu banyak karya “tradisi” yang memiliki nilai estetis tinggi sebagai hasil olah pikir dan rasa para senimannya yang sangat arif terhadap lingkungan mereka.

Blog ini mencoba mengusung sikap adil dalam menghargai karya-karya “tradisi”, karya-karya yang terikat pakem, ketentuan khusus, pola, keharusan yang dipertahankan. Pakem tersebut, sebagai buah hasil olah pikir dan rasa, tentu, sangat sarat dengan nilai. Seperti para pelukis modern yang patuh dengan prinsip penggunaan alat melukis yang biasa mereka gunakan (kuas, kanvas, dan cat minyak), kepatuhan seniman “tradisi” sangat sejalan dengan pemertahanan prinsip tadi!

nilai sangat terkait dengan kondisi dan situasi

di sini kearifan dijunjung tinggi

tak perlu risih

menghargai nilai-nilai tradisi

Redaksi